Bambang Kussriyanto
Sebagai
konsultan manajemen, pada tahun 2010 saya pernah mendapat penugasan untuk
memimpin acara Perencanaan Strategis suatu LSM, sebutlah namanya LSM ABC.
Penugasan itu saya peroleh dari permintaan kenalan. Dasar penugasan adalah
suatu Terms of Reference – Consultancy to Facilitate a Strategic Planning
Workshop (TOR Konsultan untuk Fasilitasi Lokakarya Stategic Planning) untuk LSM
tersebut. Maksud dan tujuan penugasan yang dikemukakan dalam TOR adalah untuk
memudahkan LSM ABC menyusun suatu Rencana Strategis baru yang akan diimplementasikan
secara operasional pada 2011-2013. LSM ABC mengharapkan konsultan dapat
memberikan kerangka (framework) dan bahan-bahan untuk melancarkan jalannya
loka-karya Perencanaan Strategik. Lingkup tugas yang ditetapkan dalam TOR
meliputi tinjauan atas Visi dan Misi LSM ABC, program yang dilaksanakan dan
pengembangan sasaran serta strategi pencapaian sasaran untuk tahun-tahun ke
depan. Para perserta lokakarya adalah pengurus dan staf program LSM ABC baik
dari kantor pusat maupun kantor lapangan mereka. LSM ABC menginginkan para peserta Lokakarya
Perencanaan Strategis diajak bersama-sama meninjau ulang program-program yang
selama ini dilaksanakan, dan menentukan arah masa depan serta apa saja
prioritas kegiatan yang akan dijalankan. Lamanya penugasan sekitar 15 hari
(termasuk perjalanan ke lokasi LSM ABC). Dari lokasi saya ke lokasi LSM ABC
diperlukan perjalanan dengan mobil sekitar 8 jam (= 1 hari kerja), sehingga pergi-pulang
ulang-alik sudah mengandaikan lamanya waktu penugasan berkurang 2 hari, atau
tinggal 13 hari. Menurut TOR, lamanya
waktu penugasan sudah termasuk masa persiapan, dan waktu untuk penulisan
laporan.
Persiapan
Masa persiapan diperlukan konsultan
untuk mengenal lebih dekat LSM ABC dan program-program yang dilaksanakannya. Dalam
masa persiapan ini konsultan memelajari pelbagai dokumen organisasi LSM ABC,
mulai dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, Rencana Strategik yang
terdahulu, Laporan-laporan Kerja, dokumen Hasil Penilaian Karya dari masa lalu
baik penilaian internal maupun penilaian eksternal, dokumen anggaran keuangan,
pelaksanaan anggaran keuangan, serta hasil-hasil audit baik internal maupun
eksternal. Untuk mendapat penjelasan mengenai hal-hal tertentu, konsultan
mendapat keleluasaan untuk menemui dan melakukan wawancara dengan staf utama
LSM ABC.
Sesungguhnya, jauh hari sebelum
berada di lokasi LSM ABC, konsultan sudah melakukan persiapan juga, dengan
melakukan pekerjaan rumah. Melalui suatu penelitian kecil atas berita-berita,
terbitan-terbitan (riset kepustakaan), konsultan menyusun gambaran tertentu
tentang klien, LSM ABC, misalnya dari hubungan-hubungan kerjanya dengan
pihak-pihak luar, yaitu kelompok-kelompok yang menerima jasa pelayanan LSM ABC,
dan pihak-pihak yang mendanai kegiatan LSM ABC (donor). Dari penelitian itu
setidak-tidaknya diketahui bidang dan ragam kegiatan utama LSM ABC dalam
masyarakat, untuk menyusun asumsi-asumsi situasi yang berkembang mutakhir dalam
bidang/ragam kegiatan itu pada umumnya. Hubungan dengan donor (para donor)
setidaknya memberitahukan jatidiri donor dan preferensinya di dalam hal pendanaan,
termasuk mengenai pola-pola perencanaan
strategis serta dokumentasi yang akrab baginya, yang lebih ia sukai diterapkan
para penerima bantuan keuangan.
Dengan cara itulah konsultan
kemudian menyiapkan metodologi loka-karya dan bahan-bahan yang terkait, bagi
LSM ABC. Persiapan lebih lanjut di lokasi LSM ABC dilakukan untuk menguatkan pilihan atau mengoreksi pilihan
metodologi yang telah disiapkan, dan mengembangkannya. Dalam hal ini konsultan tidak bisa semaunya
menetapkan pola, metodologi dan bahan Perencanaan Strategik menurut wawasan dan
pertimbangan pribadinya sendiri, melainkan harus berdasarkan pengalaman praktis
LSM ABC dan hubungannya dengan para klien dan donor. Karena staf internal mereka lebih
berkepentingan dengan kelancaran pelaksanaan strategi di lapangan nanti, dan
para donor lebih berkepentingan untuk memahami rencana-rencana strategi LSM ABC
serta pemantauan proses implementasi dan
hasil-hasil, maka konsultan harus menentukan pilihan atas pola, metodologi dan
bahan-bahan fasilitasi Perencanaan Strategi sesuai dengan
kepentingan-kepentingan utama itu. Donor Eropa mempunyai preferensi khusus
mengenai metodologi Perencanaan Strategik, yang berbeda dengan pola yang
disukai donor Amerika, Kanada, Jepang dan lain-lain, yang biasanya tampak dalam
formulir aplikasi dana yang sudah mereka siapkan. Pola baru, perubahan
metodologi, pasti akan menimbulkan kekacauan, sehingga kurang disukai, dan
kurang diperhatikan donor (jangan-jangan malah dibuang di tempat sampah
[kasarannya]; karena mereka menerima banyak aplikasi lain yang lebih selaras
dengan preferensi mereka). Gagasan penyempurnaan disisipkan sebagai tambalan
atau sulaman baru, sejauh relevan dan bisa dilaksanakan dengan mudah dalam
pola, metodologi pokok dan bahan-bahan lama yang sudah mereka kenal baik.
Bagaimana mereka bisa maju jika
tidak mengenal pola-pola dan metodologi baru dalam Perencanaan Strategik?
Pengenalan metodologi baru perlu. Namun itu dilaksanakan dalam acara terpisah
seperti Seminar Manajemen. Dalam kesempatan seperti itu mungkin dapat ditimbang
lebih dahulu, apakah metodologi baru cocok diterapkan dalam realitas mereka,
apakah akan sulit melakukan perubahan, di mana saja kira-kira akan terjadi
hambatan atas penerapan metodologi baru, apa yang harus dilakukan, berapa besar
biaya/pengorbanannya, apakah bisa ditanggung oleh LSM. Dengan kata lain, acara
pengenalan dan penjajagan penerapan metodologi baru dilaksanakan bukan dalam
rangka lokakarya Perencanaan Strategik terapan.
Agenda acara Lokakarya Perencanaan Strategik
Persiapan konsultan di lokasi LSM
ABC memerlukan waktu 3 hari-kerja dan menghasilkan penentuan pola dan metodologi serta jadwal acara Lokakarya
Perencanaan Strategik, yang sebenarnya merupakan uraian proses perencanaan
menggunakan pola/metodologi yang dipilih. Beberapa hal yang penting mengenai agenda
acara:
~ Ketahuilah hasil yang hendak
dicapai melalui proses ini.
~ Ketahuilah langkah-langkah yang
dapat diambil untuk mencapai hasil yang dikehendaki itu.
~ Kenalilah isyu-isyu tambahan yang
perlu dibahas dalam waktu yang tersedia. (Dengan mempertimbangkan kebiasaan LSM
bekerja sampai larut malam, melampaui jam-jam kerja resmi).
~ Tentukan prioritas penggunaan
waktu dengan bijak. (Suatu ketika, soal-soal penting berkaitan dengan
nilai-nilai, visi dan misi hanya diberi waktu satu jam, sedang diskusi soal
tambahan staf memakan waktu dua jam. Ini sungguh tidak seimbang).
~ Fleksibel saja (tambahan bahan
dialokasi pada jam istirahat atau masa luang lainnya). Namun tetaplah komit pada pembagian waktu yang
pokok.
~ Pastikan bahwa ada staf yang
merekam apa yang dikatakan di setiap acara, terutama kesepakatan-kesepakatan.
Catatan mengenai bahasan yang penting dan keputusan yang disetujui.
~ Setiap acara diharapkan melibatkan
semua peserta, sehingga mereka pun diharapkan melakukan persiapan sebelumnya.
Maka daftar acara/agenda harus dipastikan sudah disampaikan kepada mereka pada
masa sebelum pertemuan pembukaan.
~Uraikan acara-acara menurut
hari-hari Lokakarya: Hari Pertama apa saja, Hari kedua apa saja dst.
~LSM tuan rumah hendaknya membagi “kepemilikan”
(ownership) tanggungjawab atas tiap-tiap acara di antara staf mereka.



Pak Bambang, mohon ijin ya untuk dipinjam bahan ini!
BalasHapusTerimakasih sebelumnya.